Kumpulan Puisi WS Rendra dari berbagai tema

Posted on

Kumpulan Puisi WS rendra

Kumpulan Puisi WS Rendra – Selamat berbahagia kaum jomblo dan para pembaca sekalian. Semoga selalu bahagia. Tidak henti hentinya saya berdoa kepada Tuhan untuk kebaikan semua. Supaya diberi kemudahan kepada para pembaca sekalian

puisi ws rendra, kumpulan puisi ws rendra, puisi ws rendra yang pendek, puisi ws rendra tentang perjuangan, puisi ws rendra tentang cinta,
gambar dari google

Jika menilik kebelakang, telah kita simak puisi cinta islami, untuk episode kali ini akan memposting kumpulan  puisi karya ws rendra. Dimana dia adalah seorang penulis puisi yang terkenal di zamannya. Ws rendra telah banyak menelurkan banyak puisi. Dari puisi perjuangan sampai puisi cinta. Dan kebanyakan puisi WS Rendra itu panjang, walau ada yang pendek. Nanti juga akan kami sajikan puisi WS Rendra yang singkat

Untuk Biografi WS Rendra sudah banyak beredar di internet. Silahkan dicari bila ingin mengenal lebih dekat seorang WS Rendra.

 

Kumpulan Puisi WS Rendra Tentang Perjuangan

puisi WS Rendra tentang perjuangan ke 1

Judul : Lagu Serdadu

Oleh : W.S. Rendra

 

Kami masuk serdadu dan dapat senapang

ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang

Yoho, darah kami campur arak!

Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak

 

Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali

Wahai, tanah yang baik untuk mati

Dan kalau ku telentang dengan pelor timah

cukilah ia bagi puteraku di rumah

 

Siasat

No.  630, th. 13

Nopember 1959

 

puisi WS Rendra tentang perjuangan ke 2

Judul : Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang

Oleh : W.S. Rendra

 

Tuhanku,

WajahMu membayang di kota terbakar

dan firmanMu terguris di atas ribuan

kuburan yang dangkal

 

Anak menangis kehilangan bapa

Tanah sepi kehilangan lelakinya

Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini

tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

 

Apabila malam turun nanti

sempurnalah sudah warna dosa

dan mesiu kembali lagi bicara

Waktu itu, Tuhanku,

perkenankan aku membunuh

perkenankan aku menusukkan sangkurku

 

Malam dan wajahku

adalah satu warna

Dosa dan nafasku

adalah satu udara.

Tak ada lagi pilihan

kecuali menyadari

-biarpun bersama penyesalan-

 

Apa yang bisa diucapkan

oleh bibirku yang terjajah ?

Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai

mendekap bumi yang mengkhianatiMu

Tuhanku

Erat-erat kugenggam senapanku

Perkenankan aku membunuh

Perkenankan aku menusukkan sangkurku

 

Mimbar Indonesia

Th. XIV, No. 25

18 Juni 1960

 

puisi WS Rendra tentang perjuangan ke 3

Judul : Gerilya

Oleh : W.S. Rendra

 

 

Tubuh biru

tatapan mata biru

lelaki berguling di jalan

 

Angin tergantung

terkecap pahitnya tembakau

bendungan keluh dan bencana

 

Tubuh biru

tatapan mata biru

lelaki berguling dijalan

 

Dengan tujuh lubang pelor

diketuk gerbang langit

dan menyala mentari muda

melepas kesumatnya

 

Gadis berjalan di subuh merah

dengan sayur-mayur di punggung

melihatnya pertama

 

Ia beri jeritan manis

dan duka daun wortel

 

Tubuh biru

tatapan mata biru

lelaki berguling dijalan

 

Orang-orang kampung mengenalnya

anak janda berambut ombak

ditimba air bergantang-gantang

disiram atas tubuhnya

 

Tubuh biru

tatapan mata biru

lelaki berguling dijalan

 

Lewat gardu Belanda dengan berani

berlindung warna malam

sendiri masuk kota

ingin ikut ngubur ibunya

 

Siasat

Th IX, No. 42

1955

 

 

Puisi Ws Rendra tentang perjuangan ke 4

GUGUR

Oleh : W.S. Rendra

 

Ia merangkak

di atas bumi yang dicintainya

Tiada kuasa lagi menegak

Telah ia lepaskan dengan gemilang

pelor terakhir dari bedilnya

Ke dada musuh yang merebut kotanya

 

Ia merangkak

di atas bumi yang dicintainya

Ia sudah tua

luka-luka di badannya

 

Bagai harimau tua

susah payah maut menjeratnya

Matanya bagai saga

menatap musuh pergi dari kotanya

 

Sesudah pertempuran yang gemilang itu

lima pemuda mengangkatnya

di antaranya anaknya

Ia menolak

dan tetap merangkak

menuju kota kesayangannya

 

Ia merangkak

di atas bumi yang dicintainya

Belumlagi selusin tindak

mautpun menghadangnya.

Ketika anaknya memegang tangannya

ia berkata :

” Yang berasal dari tanah

kembali rebah pada tanah.

Dan aku pun berasal dari tanah

tanah Ambarawa yang kucinta

Kita bukanlah anak jadah

Kerna kita punya bumi kecintaan.

Bumi yang menyusui kita

dengan mata airnya.

Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.

Bumi kita adalah kehormatan.

Bumi kita adalah juwa dari jiwa.

Ia adalah bumi nenek moyang.

Ia adalah bumi waris yang sekarang.

Ia adalah bumi waris yang akan datang.”

Hari pun berangkat malam

Bumi berpeluh dan terbakar

Kerna api menyala di kota Ambarawa

 

Orang tua itu kembali berkata :

“Lihatlah, hari telah fajar !

Wahai bumi yang indah,

kita akan berpelukan buat selama-lamanya !

Nanti sekali waktu

seorang cucuku

akan menacapkan bajak

di bumi tempatku berkubur

kemudian akan ditanamnya benih

dan tumbuh dengan subur

Maka ia pun berkata :

-Alangkah gemburnya tanah di sini!”

 

Hari pun lengkap malam

ketika menutup matanya

 

puisi WS Rendra tentang perjuangan ke 5

Judul : Lagu Seorang Gerilya

(Untuk puteraku Isaias Sadewa)

Oleh : W.S. Rendra

 

Engkau melayang jauh, kekasihku.

Engkau mandi cahaya matahari.

Aku di sini memandangmu,

menyandang senapan, berbendera pusaka.

 

Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu,

engkau berkudung selendang katun di kepalamu.

Engkau menjadi suatu keindahan,

sementara dari jauh

resimen tank penindas terdengar menderu.

 

Malam bermandi  cahaya matahari,

kehijauan menyelimuti medan perang yang membara.

Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku,

engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu

 

Peluruku habis

dan darah muncrat dari dadaku.

Maka  di saat seperti itu

kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan

bersama kakek-kakekku yang telah gugur

di dalam berjuang membela rakyat jelata

 

Jakarta, 2 september 1977

Potret Pembangunan dalam Puisi

 

 

 

Kumpulan Puisi Ws Rendra Tentang cinta

Puisi Ws Rendra Tentang cinta ke 1

 

Judul : Episode

(W.S Rendra)

Kami duduk berdua

di bangku halaman rumahnya.

Pohon jambu di halaman itu

berbuah dengan lebatnya

dan kami senang memandangnya.

Angin yang lewat

memainkan daun yang berguguran.

Tiba-tiba ia bertanya:

“Mengapa sebuah kancing bajumu

lepas terbuka?”

Aku hanya tertawa.

Lalu ia sematkan dengan mesra

sebuah peniti menutup bajuku.

Sementara itu aku bersihkan

guguran bunga jambu

yang mengotori rambutnya.

 

Puisi Ws Rendra Tentang cinta ke 2

Surat Cinta (W.S Rendra)

 

Kutulis surat ini

kala hujan gerimis

bagai bunyi tambur mainan

anak-anak peri dunia yang gaib.

Dan angin mendesah

mengeluh dan mendesah

Wahai, Dik Narti,

aku cinta kepadamu!

Kutulis surat ini

kala langit menangis

dan dua ekor belibis

bercintaan dalam kolam

bagai dua anak nakal

jenaka dan manis

mengibaskan ekor

serta menggetarkan bulu-bulunya.

Wahai, Dik Narti,

kupinang kau menjadi istriku!

Kaki-kaki hujan yang runcing

menyentuhkan ujungnya di bumi.

Kaki-kaki cinta yang tegas

bagai logam berat gemerlapan

menempuh ke muka

dan tak’kan kunjung diundurkan.

Selusin malaikat

telah turun

di kala hujan gerimis.

Di muka kaca jendela

mereka berkaca dan mencuci rambutnya

untuk ke pesta.

Wahai, Dik Narti,

dengan pakaian pengantin yang anggun

bung-bunga serta keris keramat

aku ingin membimbingmu ke altar

untuk dikawinkan.

Aku melamarmu.

Kau tahu dari dulu:

tiada lebih buruk

dan tiada lebih baik

daripada yang lain….

penyair dari kehidupan sehari-hari,

orang yang bermula dari kata

kata yang bermula dari

kehidupan, pikir dan rasa.

Semangat kehidupan yang kuat

bagai berjuta-juta jarum alit

menusuki kulit langit:

kantong rejeki dan restu wingit.

Lalu tumpahlah gerimis.

Angin dan cinta

mendesah dalam gerimis.

Semangat cintaku yang kuat

bagai seribu tangan gaib

menyebarkan seribu jarring

menyergap hatimu

yang selalu tersenyum padaku.

Engkau adalah putri duyung

tawananku.

Putri duyung dengan suara merdu lembut

bagai angin laut,

mendesahlah bagiku!

Angin mendesah

selalu mendesah

dengan ratapnya yang merdu.

Engkau adalah putri duyung

tergolek lemas

mengejap-ngejapkan matanya yang indah

dalam jaringku.

Wahai, Putri Duyung,

aku menjaringmu

aku melamarmu

Kutulis surat ini

kala hujan gerimis

karena langit

gadis manja dan manis

menangis minta mainan.

Dua anak lelaki nakal bersenda gurau dalam selokan

dan langit iri melihatnya.

Wahai, Dik Narti,

kuingin dikau

menjadi ibu anak-anakku!

 

Puisi Ws Rendra Tentang cinta ke 3

Judul : AKU KANGEN

Oleh : W.S. Rendra

 

Lunglai – ganas karena bahagia dan sedih,

indah dan gigih cinta kita di dunia yang fana.

Nyawamu dan nyawaku dijodohkan langit,

dan anak kita akan lahir di cakrawala.

 

Ada pun mata kita akan terus bertatapan hingga berabad-abad lamanya.

Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan

untukmu hidupku terbuka.

Warna-warna kehidupan berpendar-pendar menakjubkan

Isyarat-isyarat getaran ajaib menggerakkan penaku.

Tanpa sekejap pun luput dari kenangan padamu

aku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan.

 

 

Puisi WS Rendra Pendek

 Puisi WS Rendra yang pendek 1

Judl : MANCURIA

Di padang-padang yang luas

kuda-kuda liar berpacu

Rindu dan tuju selalu berpacu

 

Di rumput-rumput yang tinggi

angin menggosokkan punggungnya yang gatal

Di padang yang luas aku ditantang

 

Hujan turun di atas padang

Wahai, badai dan hujan di atas padang!

 

Dan di cakrawala, di dalam hujan

kulihat diriku yang dulu hilang

 

Puisi WS Rendra yang pendek 2

Judul ; REMANG-REMANG

 

Di jalan remang-remang ada bayangan remang-remang

aku bimbang apa kabut apa orang.

DI langit remang-remang ada satu mata kelabu

aku bimbang apa cinta apa dendam menungguku.

Di padang remang-remang ada kesunyian tanpa hati

aku bimbang malam ini siapa bakal mati.

DI udara remang-remang ada pengkhianatan membayang selalu.

Wahai, betapa remang-remangnya jalan panjang di hatiku.

 

 

BURUNG TERBAKAR

Ada burung terbang dengan sayap terbakar

dan terbang dengan dendam dan sakit hati.

Gulita pada mata serta nafsu pada cakar.

Mengalir arus pedih yang cuma berakhir di mati.

 

Wahai, sayap terbakar dan gulita pada mata.

Orang buangan tak bisa lunak oleh kata.

Dengan sayap terbakar dan sakit hati tak terduga

si burung yang malang terbang di sini: di dada!

 

Puisi WS Rendra yang pendek 3

Judul : IA TELAH PERGI

 

la telah pergi

lewat jalannya kali.

la telah pergi

searah dengan mentari.

Semua lelaki ninggalkan ibu

dan ia masuk serdadu.

Kemudian ia kembang di perang;

dan tertelentang. Bagi lain orang.

 

itu lah kumpulan puisi ws rendra yang termasyur. sebenarnya masih banyak puisi lain dari beliau. tapi kalau ditulis semua takut ga cukup. hehe. untuk puisi karya penyair lain semisal sapardi djoko damono, puisi khalil gibran, dan puisi chairil anwar anwar silahkan cari di blog ini

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *